Tiap pagi, aku selalu berangkat sekolah jam setengah tujuh. Jam segitu tentu masih ada polisi yang jaga di perliman (pusat kota Banyuwangi ya di perliman itu) buat nertibin lalu lintas. Emang sih, ngefek juga, soalnya tambah dikit yang ngelanggar aturan berkendara di jalan raya. Tapi yang aku jengkelin dari polisi-polisi itu, kalau ada orang yang melanggar aturan di lampu lalu lintas, nggak dikejar, malah dilihatin aja.
Di berita-berita, banyak kepala kepolisian yang bilang “hukum harus ditegakkan”. Tapi, kalau membiarkan pelanggaran kayak gitu, apakah masih bisa disebut menegakkan hukum? Lama kelamaan aku mikir, sebenernya yang salah tuh siapa? Polisinya atau pengguna jalannya.
Kalau diitung pakai perbandingan, ya prosentase kesalahan terbesar pasti diraih oleh pihak kepolisian. Karena, di Indonesia ini, polisi bertindak sebagai penegak hukum. Dan apabila ada pelanggaran seperti itu, seharusnya mereka menindaklanjuti, yah minimal member sanksi lah, agar si pengendara jera. Kalau dibiarkan terus seperti itu, mau jadi apa hukum di Indonesia ini, terutama di bidang lalu lintas? Kapan Indonesia bisa bangkit? Emang sih, pertama cuma satu atau dua motor aja. Tapi, kalau dibiarkan berlama-lama, bisa jadi semua motor, bahkan semua kendaraan melanggar peraturan lampu lalu lintas. Aparat penegak hukumnya aja, entah dari kesatuan apa itu, juga masih ada yang melanggar. Kalau sudah begitu, mau dijadikan apa Indonesia ini? Apakah hanya dijadikan mainan saja, yang bisa diatur kapan harus mati dan kapan harus hidup? Aku rasa enggak, negara kita ini cuma butuh sedikit meni-pedi aja kok, biar bisa jadi “Indonesia Sejati”.
Tampilkan postingan dengan label MERDEKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MERDEKA. Tampilkan semua postingan
Senin, 31 Mei 2010
Lalu Lintas Pun Tak Pernah Teguh
00.06
Rabu, 19 Mei 2010
Buku, Kenangan Atau Dendangan?
23.02
Buku, seperti yang kita semua ketahui adalah sumber dari segala pendidikan, karena buku adalah jendela dunia. Sejak dulu, para pengajar menggunakan buku sebagai acuan untuk mengajar di kelas. Semua kegiatan belajar mengajar tak lepas dari yang namanya buku, mulai dari buku tulis sampai buku lembar kerja siswa (LKS). Semua perhatian pelajar Indonesia pun mau tak mau tertuju pada buku-buku sekolah. Namun, sekarang jaman telah berubah, gerbang era globalisasi telah terbuka, dan warga Indonesia sedikit demi sedikit ikut masuk melalui gerbang tersebut. tak heran apabila budaya lama kita semakin ditinggalkan, dan tergantikan dengan berbagai teknologi canggih yang sisi positifnya jauh lebih menguntungkan apabila dimanfaatkan.
Era globalisasi ini juga telah mempengaruhi cara guru mengajar di sekolah.Sekarang semakin banyak guru yang memanfaatkan teknologi saat pembelajaran, salah satu contohnya adalah menggunakan Liquid Crystal Display (LCD) Proyektor. Memang, hal ini lebih memudahkan, baik guru maupun siswa, dalam kelancaran pembelajaran. Namun, berkaitan dengan program Departemen Pendidikan Nasional yang mengisyaratkan “Indonesia Gemar Membaca Buku”, tentu akan mengalami penurunan yang sangat drastis. Hal ini disebabkan karena siswa cenderung lebih suka untuk mneg-copy file yang telah diterangkan oleh guru, dan mereka hanya akan belajar dari sana, bukan lagi dari buku. Padahal, apabila mereka belajar dari buku, banyak sekali hal-hal yang tidak ditemukan dalam file guru namun ada di dalam buku.
Andai saja hal tersebut telah diterapkan di seluruh Indonesia, akankah buku masih bermanfaat bagi pelajar Indonesia? Lalu, apa lagi yang dapat kita harapkan dari buku, sedangkan jaman telah memaksa kita untuk meninggalkannya dan beralih ke sesuatu yang baru? Semoga saja Depdiknas dapat menemukan cara untuk menyeimbangkan antara penggunaan buku dan teknologi. (joe)
Jumat, 14 Mei 2010
Langganan:
Postingan (Atom)