Tampilkan postingan dengan label About Sekolah-ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About Sekolah-ku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2011

Jadi Jurnalis Itu Penuh Kejutan

15.13

Wah, udah lama banget rasanya, tapi masih keinget banget bahagianya. Bangga sekali saya bisa berfoto bersama bapak Gubernur Jawa Timur, Bapak Soekarwo, dan juga wakil bupati Banyuwangi yang baru, Bapak Yusuf. Jarang sekali punya kesempatan seperti ini, mengingat saya masih duduk di bangku SMP. Meski bukanlah sesuatu yang penting, tapi merupakan suatu kehormatan bagiku bisa berdiri di sebelah Gubernur, yang saya rasa sedikit sekali yang bisa melakukannya.

Hal ini berawal ketika saya (sebagai ketua ekstrakurkuler Jurnalistik dan Broadcasting R-SMP-BI Negeri 1 Banyuwangi) bersama seorang adik kelas ditugaskan untuk meliput pelantikan bupati. Awalnya saya menolak, karena saya sedang mengurus surat ijin untuk mengikuti sebuah lomba mata pelajaran di tingkat Provinsi. Namun, entah mengapa, pembina ekskul sedikit memaksa saya, dan saya merasa sedikit tertantang akan hal ini. Maka, berangkatlah saya, di sini bertindak sebagai fotografer dan videografer (untuk dokumentasi sekolah) dan adik kelas saya bertindak sebagai reporter.

Hanya dengan berbekalkan surat pengantar dari kepala sekolah (karena saat itu terkesan mendadak), kami diantar oleh satpam sekolah menggunakan sepeda motornya (Bapak Moh. Sodikin, terima kasih. hehehe) dengan berbonceng tiga. Sesampai di 'jarak unjuk rasa', kami pun berhadapan dengan 'polisi tahap pertama'. Kemudian kami diantarkan untuk melapor kepada orang yang mereka panggil 'kepala', hingga akhirnya kami melalui pagar polisi yang kesekian kalinya. Sungguh tebal sekali penjagaan di sana.

Rintangan terakhir kami adalah 'metal detector', dan akhirnya kami masuk dalam lingkup gedung DPRD. Tanah yang cukup luas untuk ukuran sebuah tanah, dan juga berhubung saya baru pertama kali berada di sana. Orang-orang menggunakan baju yang bervariasi. Mulai dari seragam dinas, hingga menggunakan gaun 'long-dress'. Tak sedikit pula rekan-rekan jurnalis yang saya temui di sana, mulai dari rekan dari ANTV (saya lupa namanya), dari MetroTV, dari BanyuwangiFM (mas Edi), dari Radar Banyuwangi (mas Galih), dari RRI Jember (mas Sumarsono), TVOne, dan masih banyak lagi. Sungguh kami merasa salah satu siswa SMP yang sangat beruntung dapat berada di sana. Tak sedikit pula 'acungan-jempol' yang kami terima dari para jurnalis senior.

Dan, ketika tiba pada saat pelantikan, ruang sidang paripurna ditutup. Para jurnalis senior tidak memasuki ruang sidang, maka kami pun tidak melakukannya, sampai tiba-tiba jurnalis dari ANTV menyuruh kami untuk masuk ke dalam ruang sidang. Kami pun secara 'mengendap-endap' masuk ke dalam. Mengherankan sekali. Tidak ada satupun jurnalis di dalam, kecuali dari TVOne. Di pintu ruang sidang dijaga ketat oleh angkatan bersenjata, dan mereka tidak mencegah kami saat kami memasuki ruang sidang. Saya pun segera berburu foto di sana. Namun, tiba-tiba pundak saya dicolek oleh seorang aparat, dan saya dipanggil menuju dekat pintu ruang sidang. Beliau meminta surat ijin kami, dan saya menunjukkan surat pengantar dari kepala sekolah. Dan, entah mengapa, beliau langsung meng-'accept' surat tersebut. Sungguh ajaib sekali. Kami pun terus berada di dalam, hingga prosesi 'pemberian selamat pada bupati dan wakil bupati'. Kami merasa bangga sekali bisa berjabat tangan dengan bapak bupati dan wakil, yang kami kira Bapak/Ibu guru kami belum semua yang seberuntung kami. Sekeluar kai dari ruang sidang, dengan bantuan reporter MetroTV, kami pun dapat mewawancarai salah satu anggota DPR komisi 1, Bapak Effendy. Karena adik kelas saya belum berpengaaman dalam mengajukan pertanyaan, akhirnya jurnalis MetroTV itu lah yang mengajukan pertanyaan, dan saya bersama videograper MetroTV merekamnya. Dan, tak habis-habisnya keberuntungan kami, dapat berfoto bersama dengan Bapak Gubernur, Bapak Wakil Bupati, dan Bapak Ketua DPRD. Sungguh bahagia sekali, sampai jatah makan pun kami dapatkan, padahal kami tidak masuk dalam jatah Pers.

Itulah pelajaran hidup saya, JANGAN MELIHAT SUATU PEKERJAAN/USAHA DARI HASILNYA SEKARANG, melainkan dari MANFAATNYA UNTUK MASA DEPAN. Semangat Jurnalis! (joe)

Minggu, 04 April 2010

Komik Nyasar Ke Sekolah

13.35

Seperti yang kita semua tahu, sekolah merupakan tempat untuk belajar. Siswa dan guru berinteraksi lewat kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Serangkaian peralatan belajar-mengajar tak lepas dari kegiatan itu semua, salah satunya buku. Di sekolah, kita memerlukan panduan, baik buku catatan maupun buku paket untuk memperjelas, apa yang telah diterangkan oleh bapak ibu guru.

Namun, kita juga harus tahu diri, buku apa yang bermanfaat dan buku apa yang seharusnya tidak dibawa ke lingkungan sekolah. Seperti contohnya, buku komik dan novel, buku yang tidak seharusnya berada di lingkungan sekolah, kecuali sedang ada tugas, itupun kalau novel. Komik jarang sekali digunakan sebagai bahan tugas. Tapi, tak jarang murid yang membaca komik dan novel di kelas, bahkan saat jam pelajaran berlangsung.

Layaknya foto di atas, seorang siswa berinisial SMP sedang membaca komik, meskipun harus secara sembunyi-sembunyi. Tak hanya SMP saja yang melakukan hal ini. Banyak sekali siswa yang juga mempraktekkan "bacaan sampingan" ini, bahkan dengan cara-cara yang lain. Seperti menyelipkan dalam buku paket dan dibuat seolah-olah sedang serius belajar. 

Tindakan-tindakan ini juga diperkuat dengan maraknya tempat-tempat penyewaan buku komik dan novel di Banyuwangi. Dengan begitu, hanya memerlukan kurang lebih dua ribu rupiah, mereka telah dapat menyewa buku yang mereka inginkan dengan jangka waktu tertentu.

Memang, belum banyak pihak yang mengetahui hal ini, terutama para bapak ibu guru, karena siswa akan menyembunyikan bacaan sampingannya ketika guru datang menghampiri. Jadi, meskipun guru berusaha sekuat apapun untuk menghindari kejadian ini, sia-sia saja. Karena, untuk urusan taktik, muridlah yang lebih jago di sini. Seharusnya, kesadaran diri dari masing-masing muridlah yang dapat menghentikan semua ini, sebuah tindakan yang dapat merusak generasi Indonesia di masa mendatang. Namun, tidak salah jika sekali-sekali guru merazia tas para murid atas buku-buku komik tersebut dan menyitanya apabila menemukan. Toh, nggak ada ruginya juga kan? (joe)

Rabu, 03 Maret 2010

Wali Murid Antri Demi Sekolah Favorit

00.07

Seperti yang kita semua ketahui, SMPN 1 Banyuwangi kini telah memasuki taraf RSBI atau Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Hal ini tentu menjadikan sekolah yang satu ini sebagai sekolah favorit. Namun, sebenarnya dari dulu sekolah ini telah menjadi dambaan semua siswa yang akan lulus dari bangku SD. Gelar "RSBI" hanya memperkuat tekad siswa untuk masuk ke dalam SMP yang satu ini.

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk tahun ajaran 2010-2011 telah dimulai tanggal 1 Maret kemarin. Jumlah pendaftar yang masuk sudah cukup banyak untuk hari pertama. Dan hari yang kedua pun ada penambahan jumlah pendaftar yang bisa dibilang tidak terlalu banyak untuk peningkatan, namun telah banyak untuk jumlah pendaftar.

Wali muridlah yang menjadi tokoh dalam peristiwa ini. Namun, siswa tetap ikut mendampingi. Mulai dari pengambilan map, pembacaan petunjuk pengisian formulir, pengisian formulir, hingga pendaftaran di loket, semuanya orang tua yang memperjuangkan. "Saya ingin anak saya bisa masuk ke sini, soalnya sudah terkenal di masyarakat sebagai sekolah unggulan," ucap Bu Edi, salah satu wali murid yang hadir pada hari pertama.

"Saya ingin masuk ke sini karena banyak kakak kelas dan teman-teman saya yang masuk sini. terus, ada yang bilang juga murid-murid di sini itu pinter-pinter," ujar Tofan, salah satu calon siswa SMPN 1 Banyuwangi. Sekarang, mereka dapat mengatakan hal-hal yang baik tentang sekolah tercinta ini. Namun, apakah setelah masuk ke SMP RSBI ini, mereka dapat mempertahankan nama baik sekolah yang dulunya mereka puja-puji ini? (joe)

Selasa, 02 Maret 2010

Kantin Kejujuran Identitas Sekolah Kami

23.46

Kantin, suatu tempat yang tak asing lagi bagi kita semua. Tempat semua orang untuk memenuhi keinginan perut. Di kantin, tersedia berbagai macam makanan serta minuman. Di mana saja ada, baik di rumah sakit, di kantor, di sekolah apa lagi. pasti semua sekolah mempunyai kantin kejujuran.

Tak terkecuali sekolah yang satu ini. SMPN 1 Banyuwangi, memiliki kantin UKS yang terdiri dari beberapa cafe, di mana para wiraswasta yang telah menyewa tempat di sana menjual makanan yang mereka sediakan. Ada pula koperasi siswa, yang menyediakan berbagai hal, mulai dari makanan, minuman, alat tulis, foto copy, hingga wartel.

Namun. baru-baru ini, ada sebuah terobosan dahsyat yang telah diluncurkan oleh sekolah, tentunya berkat kerja sama dari pemerintah dan Depdiknas Kabupaten Banyuwangi. Hal tersebut adalah sebuah kantin kecil yang diberi nama Kantin Kejujuran. Namanya juga kantin kejujuran, fungsinya jelas untuk mengetes, seberapa besar kejujuran dari siswa yang bersekolah di sana.

"Kantin ini merupakan bukti, bahwa SMPN 1 Banyuwangi telah pantas menjadi RSBI dan siap menjadi sekolah yang bertaraf Internasional,"  ucap Bu Rika Wulandari, saat launching  kantin kejujuran. Memang, di kantin ini siswa sangat dituntut dalam hal kejujuran. Tidak ada yang melayani, dan juga tidak ada yang menjaga. Tidak ada kamera pengintai pula. Apabila mau membeli sesuatu, siswa harus mengambil sendiri, membayar sendiri, serta mengambil kembalian sendiri, apabila memang uang yang dibayar lebih dari jumlah belanjaan.

Apabila kantin ini berhasil, maka kejujuran dari siswa SMPN 1 Banyuwangi telah teruji, 100% bukan para koruptor dan siap bersaing di dunia luar untuk menjadi manusia yang sukses. Namun, siapa yang tahu, kira-kira apa yang akan terjadi setahun ke depan dengan kantin kejujuran ini?

Kipas Angin Dinginkan Bumi

23.26

Seperti yang kita semua tahu, lapisan ozon di bumi kita tercinta ini sudah mulai menipis, tak jarang pula yang berlubang. Salah satu penyebab dari keadaan menyedihkan ini adalah karena kebanyakan memakai alat-alat yang menghasilkan CFC. Kalau CAL****NIA FRIED CHICKEN sih masih enak. Nah, CFC yang satu ini adalah gas chlorofluorocarbon, gas yang merupakan salah satu oenyebab rusaknya lapisan ozon kita.
Salah satu alat penghasil CFC adalah AC (air conditioner), yang sering kita gunakan di kamar kita apabila sedang musim panas. Udara dapat lebih cepat dingin daripada menggunakan kipas angin, benar? Namun, apakah kita tidak memikirkan dampak ke belakangnya nanti? Apakah dingin yang kita rasakan ini dingin yang menyehatkan atau dingin yang malah membunuh semua secara perlahan-lahan? Seharusnya, kita ikut untuk menjaga bumi kita agar tetap sehat. Karena, jika bumi sakit, kita akan ikutan sakit juga.
SMPN 1 Banyuwangi, salah satu sekolah yang terkenal di kabupaten Banyuwangi ini, ikut serta dalam proses perawatan bumi yang seharusnya dilakukan oleh seorang itu. Sekolah ini hanya menggunakan kipas angin sebagai alat pendinginnya. Hampir seluruh ruangan menggunakan kipas angin, kecuali beberapa ruangan yang mengharuskan kita untuk menggunakan AC, misalnya laboratorium komputer, agar mesin komputer tidak cepat panas.
"Meskipun panas, yang penting sehat," tutur Wuri, salah satu siswa kelas 8F yang memang mengaku sering kepanasan saat berada di dalam kelas. "Di kelas kami terdapat tiga buah kipas angin, namun itu sudah cukup untuk mendinginkan kami semua. Daripada menggunakan AC, kan bisa merusak lingkungan kita, dan yang nantinya rugi kan kita sendiri."
Nah, kita dapat mengawali untuk belajar merawat lingkungan sejak masa-masa sekolah. Namun, apabila seorang siswa SMP telah dapat menghargai lingkungan, mengapa justru mereka-mereka yang lebih senior mencemari lingkungan kita? (joe)

Sabtu, 27 Februari 2010

RSBI Disandang, Guru Belajar Keren

19.23


"Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional", gelar itulah yang kini tengah disandang oleh SMPN 1 Banyuwangi ini. Tentu, apabila namanya telah mengandung hal tersebut di atas atau yang sering disingkat dengan RSBI, semua aktivitas pembelajaran, terutama MIPA, Inggris, dan TIK harus menggunakan Bahasa Inggris dan menggunakan media LCD (Liquid Crystal Display) sebagai media penyampaiannya. Dan, gawatnya, tak semua guru dapat berbahasa Inggris, terutama dapat mengoperasikan teknologi dengan baik.
Maka dari itu, semua guru telah diberikan pelatihan Bahasa Inggris jauh-jauh hari sebelum Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), dan juga telah diadakan pembelajaran person to person tentang pengetahuan TIK.
"Sudah pernah di adakan tes untuk kemampuan internet, dan juga telah diadakan tes kemampuan guru untuk mengetahui pantas tidaknya guru tersebut mengajar di sekolah kita tercinta ini, terutama untuk mengajar di kelas RSBI. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar semua pengajar yang berada di sekolah favorit Banyuwangi ini  mempunyai kualitas yang sebanding dengan apa yang telah dikenal oleh semua masyarakat," tutur salah  satu pengajar SMPN 1 Banyuwangi. 
Sekolah yang telah berdiri puluhan tahun itu sedang memperjuangkan gelar “Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)” yang akan diperoleh setelah berhasil melewati masa percobaan untuk mendidik para siswa RSBI. Hal tersebut akan berlangsung selama tiga tahun, sebelum SMPN 1 Banyuwangi dapat disandangi gelar “International Standart School alias SBI”. (joe)

Postingan Lama

Blog ini didesain oleh seorang amatiran dan berisi artikel-artikel ringan yang diperuntukkan memerkaya wawasan. Semoga bermanfaat...